daftar isi

RECENT POST

Jumat, 11 November 2011

DELMAN

Delman adalah kendaraan transportasi tradisional yang beroda dua, tiga atau empat yang tidak menggunakan mesin tetapi menggunakan kuda sebagai penggantinya. Variasi alat transportasi yang menggunakan kuda antara lain adalah Kereta Perang, Kereta Kencana dan Kereta kuda.
Nama kendaraan ini berasal dari nama penemunya, yaitu Charles Theodore Deeleman, seorang litografer dan insinyur di masa Hindia Belanda.[1] Orang Belanda sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama dos-à-dos (punggung pada punggung, arti harfiah bahasa Perancis), yaitu sejenis kereta yang posisi duduk penumpangnya saling memunggungi. Istilah dos-à-dos ini kemudian oleh penduduk pribumi Batavia disingkat lagi menjadi 'sado
Pada hari Minggu ku turut ayah ke kota…
Naik delman istimewa ku duduk di muka
Ku duduk disamping pak kusir yang sedang bekerja
Mengendara kuda supaya baik jalannya Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk…..
Delman juga merupakan kendaraan yang dapat di pesan jika ingin bepergian bersama keluarga, dan jika keluarganya banyak, maka bisa menggunakan delman lebih dari satu, sehingga ber arak-arak an menuju ke tempat tujuan. Dulu, dikampung ada tetangga yang pekerjaannya kusir delman, mempunyai delman sendiri, lengkap dengan kudanya. Tak terbayangkan jika memiliki delman lengkap dengan kuda saat ini, karena mencari rumput untuk makan kuda lebih sulit.
Awal tahun 70 an, untuk pergi ke Kota Gede di Yogya, bisa ditempuh dengan naik delman dari depan pasar Beringharjo, melewati sawah dan padi yang menguning. Perjalanan ditempuh sekitar 20-30 menit. Demikian pula saat saya mulai kuliah di Bogor, tempat kost di daerah Sempur, daerah lembah yang terletak di antara jalan raya Bogor dan jalan Oto Iskandardinata (sekarang jl. Raya Pajajaran) di samping Kebun Raya, jika pergi ke pasar maka pulangnya naik delman, naik becak akan menyulitkan karena jalanan di Bogor naik turun. Saat itu angkutan umum adalah bemo, yang jarang berlalu lalang, dan berhenti setelah jam 9 malam, sehingga naik delman memang merupakan pilihan. Namun naik delman bukannya tak berisiko, pernah ada yang naik delman, kudanya ngambeg, nggak mau bergerak, padahal di tengah jalan besar.
Sekarang delman hanya ada untuk acara anak-anak berwisata, untuk keliling lapangan Monas, atau di Ancol dan dihias. Di kota kecilku juga sudah jarang delman, mungkin karena memelihara kuda lebih sulit, tanah ladang dan sawah sudah berganti menjadi pertokoan dan perumahan. Memang dunia terus berubah, dan kita harus terus maju….tinggal kita setiap kali berpikir, apakah perubahan tersebut selamanya membawa kebaikan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar